Kamis, 03 Desember 2009

Einstein Memang Murid yang Cerdas

Thursday, January, 2010

*Apakah dingin itu ada?
#Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja dingin itu ada, kamu tidak pernah sakit flu ya?
*Kenyataannya dingin itu tidak ada. Menurut hukum fisika, yang kita anggap dingin itu adalah ketiadaan panas, suhu -460 F adalah ketiadaan panas sama sekali, semua partiktel menjadi diam dan tidak dapat bereaksi pada suhu tersebut. Kita menciptakan kata dingin untuk mendeskripsikan ketiadaan panas.

*Apakah gelap itu ada?
#Tentu saja itu ada!
*Sekali lagi Anda salah. Gelap itu juga tidak ada. Gelap adalah keadaan dimana tidak ada cahaya. Cahaya bisa kita pelajari, gelap tidak. Kita bisa menggunakan prisma Newton untuk memecahkan cahaya menjadi beberapa warna dan mempelajari berbagai panjang gelombang setiap warna. Tapi Anda tidak bisa mengukur gelap. Seberapa gelap suatu ruangan diukur dengan berapa intensitas cahaya diruangan tersebut. Kata gelap dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan cahaya.

*Apakah kejahatan itu ada?
#Tentu saja, dan itu jelas-jelas terjadi! Kita melihatnya setiap hari di koran dan TV, dan betapa seringnya kita mendengar keluhan polisi bagaimana sulitnya menjaga tahanan yang begitu banyaknya.
*Sekali lagi Anda salah. Kejahatan itu tidak ada. Kejahatan adalah ketiadaan Tuhan. Seperti dingin atau gelap, kejahatan adalah kata yang dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan Tuhan. Tuhan tidak menciptakan kejahatan. Kejahatan adalah hasil dari tidak adanya kasih Tuhan dihati manusia. Seperti dingin yang timbul dari ketiadaan panas dan gelap yang timbul dari ketiadaan cahaya.


Kuburan, adalah tempat terbaik kau merenungi hidup

january 1st, 2010 by yhat

Bisa dikatakan setiap hari, seperti biasa ketika saya hampir tiba ditempat kerja, saya sering melewati pekuburan warga. Bukannya tempat kerja saya ditengah hutan atau jauh dari rumah penduduk, tapi saya bekerja disebuah pulau kecil dan dikarenakan penduduk Indonesia yang kian hari kian bertambah dan lahan yang tersedia disini tidak banyak, maka terpaksalah sebagian warga membangun rumah disekitar pekuburan.

Hari ini, tidak seperti biasanya, ketika melewati pekuburan, saya tertarik untuk melihat kuburan yang sering saya acuhkan itu. Saya perhatikan, sebagian besar kuburan disini tidak terawat dengan baik, banyak tumbuhan yang entah apa namanya tumbuh ditempat peristirahatan yang semestinya ditaburi bunga itu. Berlama-lama saya perhatikan kuburan, dan pandangan saya tertuju pada sebuah nisan yang tingginya tidak lebih dari sepinggang anak-anak.

Saya baca nama yang tertulis dinisan tersebut, tidak menarik, hanya nama sederhana orang-orang kampung zaman dahulu. Saya baca tanggal yang tertulis dibawahnya, yah! Pasti itu adalah tanggal lahir pemilik kuburan ini. Saya baca juga tanggal yang ada dibawah tanggal, Wah! usia penghuni kuburan ini lama juga ya!, kemudian saya menoleh kekuburan yang berada disampingnya, saya tertegun. Kuburan yang saya perhatikan ini memiliki tetangga yang masih anak-anak.

Cukup lama lagi saya tertegun, dan ketika tersadar, hal pertama yang saya lihat adalah garis lurus yang berada diantara dua tanggal yang terdapat dinisan, garis yang biasanya disebut strip, garis yang jika dibaca, sampai atau hingga.

Ya! Garis itu menandakan berapa lama manusia tersebut telah hidup didunia, apakah dengan umur yang telah diberikan Tuhan itu ia pergunakan dengan benar, apa saja yang telah ia lakukan semasa hidupnya, apakah usianya telah ia gunakan dengan sebaik-baiknya, apakah dihidupnya ia telah menjadi manusia yang bermanfaat bagi manusia dan lingkungan sekitarnya.

Saya jadi teringat sebuah puisi yang ditugaskan guru Bahasa semasa smp untuk dicarikan artinya, puisi empat baris yang biasanya disebut kuatrain, puisi itu berjudul nisan dan begini nih, bunyinya (Kalo bisa bacanya dikuburan, pas tengah malam jum’at, oc ^_^):

Bukan kematian benar menusuk kalbu
Keridlaan menerima segala tiba
Tak kutahu setinggi itu atas debu
dan duka maha tuan bertakhta

Puisi yang mesti saya carikan arti yang terkandung didalamnya adalah puisi coretan Chairil Anwar, puisi yang diciptakan oleh Chairil pada saat usianya masih berumur 22 tahun. Pada saat itu nenaknya yang amat ia cintai meninggal dunia, ia begitu sedih. Tapi ia tetap kuat, ia beranggapan bahwa kesedihan hanya boleh ada sebatas tingginya sebuah nisan, tidak lebih. Dan ia berhasil melakukannya.

Bagaimana selanjutnya kita memandang hidup? Apakah kita akan meninggalkan sedikit-demi-sedikit hal yang tidak berguna dan sia-sia didalam hidup kita. Apakah setiap langkah kita adalah anugerah terindah yang diberikan Tuhan pada kita dan kita akan mengisinya dengan selalu berbuat hal yang bermanfaat bagi sesama. Dan apakah kita bisa mempelajari bagaimana seorang Chairil Anwar mengatasi kesedihan, cobaan dan rintangan yang menghadang dihadapan kita. Tentu jawabannya ada pada diri kita masing-masing.

La Tahzan, innAllahama"ana